Sudah seminggu terakhir ini aku merasakan seperti ini. Perut nggak enak, pengen muntah tapi g bisa. Andai saja bisa, pasti agak lega sedikit. Bawaannya males mlulu. Semua berharap hal itu akan terjadi. Tapi kami hanya bisa berharap dan berdoa kepadaMu ya Rabb.
Mungkin hanya sekedar berharap, tadi siang harapan itu pupus dengan datangnya tamu tiap bulan itu. Ada sedikit raut kecewa di wajah suamiku setelah aku katakan bahwa aku nggak telat. Aku tahu dia tersenyum hanya untuk menghiburku. Maafkan aku suamiku, aku hanya manusia biasa yang tak kuasa berkehendak atas segalanya.
Semoga kau tak akan berubah sikapmu kepadaku pada akhir2 ini setelah mendengar hal itu. Aku pun ingin menangis merasakan kekecewaan yang ada di dalam diri orang-orang sekitarku. Memang sebelumnya mereka telah berharap lebih pada pernikahan kami. Sebuah beban yang mungkin aku jalani hanya dengan doa dan ikhtiar saja.
***
Aku hanya bisa berdoa dalam surat ini kepadaMu Tuhan
Tuhan, aku tahu Engkau akan memberikan yang terbaik untuk semua hambaMu
Tuhan, aku tahu Engkau menakdirkan demikian untuk kebaikan hambaMu
Tapi Tuhan, bolehkah aku meminta secuil keajaiban dariMu
Bolehkah aku berharap seujung mukjizatMu
Bolehkah aku memohon ujung kebaikan yang Kau punya
Aku tak ingin mengecewakan orang-orang di sekitarku
Aku tak ingin mereka terlalu lama berharap
Aku tak ingin mereka cuma bertanya-dan bertanya
Aku ingin mewujudkan keinginan mereka
Aku ingin menyempurnakan ibadahku dengan suamiku ini
Aku ingin melihat mereka tersenyum mendengar kabar keajaibanMu itu
Tuhan hanya secuil mukjizat yang Kau berikan akan membawa kebahagiaan bagi kami semua
Ku hanya manusia biasa.
Ku hanya bisa berharap.
Berharap Secuil Mukjizat
***
Bersama suamiku (Bakoel Kopi) ku bersimpuh padaMu
Oleh : Didie DiaAsa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar