Jumat besok aku ditugaskan kepala sekolah untuk memberi pengarahan kepada anak2 tentang cara menulis cerpen. Soalnya untuk menyiapkan lomba menulis cerpen yang akan dilaksanakan hari Senin. Aku mulai mencari-cari teori tentang cerpen dan membuat contoh cerpen dengan tema yang ditentukan. Berikut cerpen yang saya buat dengan segenap kemampuanku..hehe...Maklum kalau cerpennya agak amburadul.
Penghormatanku
Di Atas Kursi Roda
Krukukuyuk….suara
ayam jago saling bersahutan. Berlomba dengan suara ibu-ibu yang sedang asyik
berbelanja di bakul sayur. Begitupun suasana di dalam rumahku sudah terdengar
ramai. Ibu mulai menyiapkan masakan untukku yang masih keenakan tidur.
Mendengar itu semua, aku hanya terbangun dan membuka jendela kamarku yang
sebenarnya bentuknya sudah tak beraturan. Makanya aku harus ekstra hati-hati
membuka jendela anyaman bambu itu. Takutnya, tali rafia yang menahan jendela itu
akan putus. Setelah aku buka jendela itu dan aku liat suasana di luar rumah,
aku begitu terkejut.
“Apa mataku ini kabur ya?” kataku
dalam hati sambil mengucek mataku yang masih mengantuk ini.
“Atau ayamnya salah mengira
waktunya?” kumenatap ke luar rumah dengan pandangan yang agak malas.
Keadaan di luar rumah sedikit membuatku
merasa bingung. Ternyata hari masih gelap. Kabut pun masih tebal bercampur
dengan sejuknya udara pagi. Sadar akan hari masih gelap, aku kembali mundur
pelan-pelan menuju tempat tidurku semula. Tempat tidurku bergoyang dan
bersuara.
“Kriyek-kriyek…Ops..” ku merangkak lebih hati-hati
lagi.
“Hari masih gelap,
tidur dulu, ah” ku akan melanjutkan mimpiku dengan ditemani bantalku.
Kurasa, aku hanya tidur
sebentar saja.
“Ka…Kaka…kamu nggak
sekolah, Nak?”
Panggilan itu
membuyarkan mimpiku. Aku sangat kaget apalagi setelah melihat jam dinding yang
menempel di batang bambu itu.
“Astaga, aku
terlambat.” teriakku sambil merapikan tempat tidurku.
Jam dinding menunjukkan
pukul 05.30. Aku takut melihat jam dinding itu. Seakan-akan jam dinding itu
melototiku sambil mengomeliku. Jam dinding itu terus mengejar-ngejarku untuk
segera berangkat ke sekolah.
Mungkin ibu mendengar
teriakanku. Ibu langsung bergegas ke kamarku untuk membantuku menyiapkan
kebutuhanku ke sekolah. Ibu segera membawaku ke kamar mandi. Kamar mandiku tak
seperti kamar mandi yang kalian miliki. Kamar mandiku begitu alami. Baknya
terbuat dari tanah liat. Bentuknya bulat. Lantainya pun dari kerikil-kerikil
kecil. Kalau ibu memandikanku, beliau selalu duduk di atas batu besar di depan
bak mandi. Aku dipangkunya sambil memandikanku. Selesai mandi, ibu menyiapkan
segala kebutuhan sekolahku, dari baju, buku dan yang lainnya.
Aku semakin dikejar-kejar waktu, untuk segera ke
sekolah. Aku pun tak dapat mendesak ibuku untuk cepat-cepat membantuku. Ibu tak
sekuat dulu lagi.
“Sudah, Bu. Aku mau segera sarapan terus berangkat ke
sekolah.“ desakku ingin segera berangkat ke sekolah.
“Iya, Nak. Sabar ya. Tuh sarapan juga sudah ibu
siapkan” jawab ibuku menenangkanku.
Aku sudah kelas 3 SD, tapi aku tak bisa melakukan
semuanya sendiri.
Selesai ibu menyuapi aku sarapan, aku pun berangkat ke
sekolah diantar ibu. Tapi sebelumnya, ibu harus menutup pintu rumah dengan
sebatang bambu. Aku berangkat ke sekolah digendong ibu. Sebenarnya aku kasihan
melihat ibuku, menjadi susah karena aku.
Di perjalanan aku menikmati pemandangan yang begitu
asri. Khas daerah pedesaan. Banyak sawah-sawah yang hijau. Pohon-pohon yang
berdiri tegak di pinggir jalan. Daun-daun yang bergoyang karena tiupan angin.
Hingga wajahku pun terasa sejuk karena angin itu. Burung-burung berkicau dan
kupu-kupu terbang ke sana kemari seolah-olah mereka mengiringi perjalananku. Sungguh
indah tanah airku.
Perjalananku tak cukup di sini. Kami berjalan sekitar
1 km untuk menuju jalan raya. Sesampainya di jalan raya, aku dan ibu harus naik
angkot untuk mencapai sekolahku. Memang desaku jauh dari sekolah dan pasar.
Untuk ke sekolah saja harus menempuh 3 km. Meskipun begitu, kunikmati setiap
perjalanan untuk menuju sekolahku tercinta.
Tak terasa, kami sudah sampai di sekolah. Teman-teman
sudah banyak yang datang dengan didampingi orang tuanya masing-masing. Sekolah
kami adalah sekolah khusus untuk anak-anak cacat. Bisa dibilang SDLB, cuma
bedanya siswa-siswanya tak dikenakan biaya dan tidak berseragam.
Teman-teman berkumpul di halaman sekolah dengan wajah
yang ceria untuk menyambut hari membanggakan dan membahagiakan ini. Hari ini
adalah hari senin, hari yang selalu aku tunggu setiap minggunya. Hari di mana
aku bisa melakukan hal yang sangat membanggakan bagi negaraku. Setiap hari
senin, sekolah kami selalu melaksanakan upacara bendera. Salah satu kegiatan
penghormatan terhadap tanah air dan para pahlawan kemerdekaan.
Untuk bersiap-siap melaksanakan upacara bendera, aku
dan ibu langsung menuju ke lapangan menghampiri teman-temanku.
“Selamat pagi!” sapaku kepada teman-teman yang selalu
menjadi penghiburku
“Eaeeiii.” jawab teman-temanku sambil tersenyum.
Meskipun perkataan mereka tidak jelas, tapi melihat
senyum mereka aku sudah mengerti apa maksud ucapannya tadi. Mereka anak-anak
tuna rungu dan tuna wicara. Ada juga yang cacat tubuh. Aku tak merasa menyesal
sedikitpun berada di sekolah ini. Baru satu tahun aku sekolah di sini, aku
sudah sangat mengenal mereka seperti saudara sendiri. Mereka pun sebaliknya,
mereka menerimaku selayaknya saudara sendiri.
“Ting…ting…ting.” bel sekolah berbunyi nyaring.
“Ayo anak-anak berbaris di lapangan!” teriak guru-guru
sambil mengerakkan tangannya.
Guru-guru membantu kami berbaris di lapangan. Begitu
pun orang tua kami juga ikut membantu kami berbaris. Saat upacara bendera akan
dimulai, selalu hatiku merasa sedih. Aku merasa tak berguna untuk tanah airku. Bahkan
untuk sekedar menghormati pun aku tak bisa. Untuk berdiri tegak, aku tak bisa.
Saat penghormatan kepada sang merah putih pun aku nggak bisa melakukannya.
“Andai aku dulu menurut nasihat ibuku!” sesalku dalam hati sambil mengingat peristiwa
itu.
Peristiwa yang mungkin sulit untuk aku
lupakan dan yang sangat aku sesalkan. Dulu aku dinasihati ibuku untuk tidak
bermain petasan, tapi aku tak menghiraukan nasihat itu. Hingga suatu ketika,
petasan itu membawa musibah bagiku. Tangan dan kakiku terkena petasan dan
hancur. Mendengar itu, ibuku menangis sambil membawaku ke dokter. Dokter
berkata kepada ibuku bahwa tangan dan kakiku harus diamputasi atau dipotong.
Kalau tidak dipotong, tangan dan kakiku akan membusuk dan berpengaruh pada
anggota tubuh yang lain. Dengan berat hati, ibu menyetujuinya. Pertama kali aku
mengetahui aku kehilangan tangan kanan dan kaki kananku, aku begitu kaget dan
sedih. Berhari-hari, aku berontak dan tak mau sekolah karena malu. Ibuku yang
selalu menenangkanku. Hingga akhirnya, aku dipindahkan ke sekolahku yang
sekarang dan aku mau sekolah lagi.
Penyesalan
hanya tinggal penyesalan dan tak ada gunanya. Aku harus bangkit untuk tanah
airku karena cita-citaku ingin menjadi tentara pembela tanah air. Meskipun
cita-citaku tak bisa terwujud, setidaknya aku bisa memberikan hal kecil untuk
negaraku dengan berjiwa pahlawan dan rajin belajar.
Terdengar
lagu Indonesia Raya yang sangat merdu. Lagu yang mengiringi pengibaran bendera
merah putih. Walaupun aku tak bisa mengambil sikap hormat dengan tangan
kananku, tapi aku menghayati setiap lirik lagu Indonesia Raya sambil melihat
kibaran bendera yang berangsur naik ke atas tiang dengan gagah. Ini adalah
wujud cintaku kepada tanah air. Meski aku hanya bisa duduk di atas kursi roda
ini.
Oleh :
Didie DiaAsa