Sabtu, 29 Desember 2012

Moment Liburan

Setelah beberapa minggu disibukkan dengan mengurus kebutuhan anak2 menghadapi ujian semester dan rapotan. Dan alhamdulillah, selesai sebelum liburan. Padahal sekolah lain, rapotannya setelah liburan. Waduh gk bisa ngebayangin kalau liburan masih disibukkan dengan rapotan. 
Untuk mengisi liburan tak perlu pusing2 dan BT harus stay di rumah aja karena banyak jadwal liburan yang dibuat oleh keluargaku dan keluarga baruku.

Liburan pertama, aku dan sepupuku berniat untuk menjenguk bibi di Pacet, yang kabarnya beliau sakit. Sesampai di Pacet, ternyata bibi udah sehat. Aku dan sepupu pun memutar rencana lagi. Akhirnya ketemu, kami akan ke Sendi, Pacet. Di perjalanan ke Sendi, ada satu hal yang aku takutkan, yaitu sepeda Mio ku. Aku takut Mioku nggak bisa naik, secara perjalanan ke Sendi sangat terjal naiknya. Belokannya pun mengerikan. Untung kami selamat sampai tujuan. Kami berniat untuk meneruskan perjalanan ke atas lagi menuju Cangar, tapi cuaca tak memungkinkan. Alhasil, Aku, Retno Dia, Achin, Prima Priyadi, Pudi Adjie, Dodik Irawan, dan Ahonk Chan harus berhenti di Sendi. Kami mencari tempat untuk ngopi. Ketemu satu kedai kopi yang ternyata sudah akrab dengan salah satu sepupuku. Kami ngopi bareng di situ. Selah beberapa menit setelah kami masuk, hujan deras menguyur Sendi. Kabut pun mulai menutup lapisan udara di Sendi. Hujan mulai reda, kami pun pulang dengan membawa kesenangan sendiri setelah berkumpul bersama. Tepat pukul 4 sore, kami harus pulang. Ternyata aku pernah ke Sendi sebelumnya, waktu jaman-jaman SMA dulu. Sendi mengingatkan aku pada sesuatu. Hari pertama liburan sungguh memuaskan. 


Liburan Kedua, aku diajak mbakku ke Tanjung Papuma. Sebelumnya sih sudah bilang, tapi sama suami tak boleh. Karena dengan alasan jitu dari mbakku, akhirnya aku dibolehkan ikut rekreasi itu. Di situ aku bagaikan orang asing, karena rekreasi itu acara teman-teman pabriknya mbakku. Ya aku seh EGP aja. Emang Gue Pikirin. Tanjung Papuma lokasi dekat dengan Watu Ulo di Jember. Kirain deket. ternyata waooohhh jauh juga. Serasa perjalanan ke Bali aja. Nyampai lokasi serasa ada kepuasan tersendiri. Berangkat pukul 07.00 pagi sampai di lokasi jam 13.00 jam 1 siang. 6 jam untuk menuju Tanjung Papuma. Kami tak langsung ke Tanjung Papuma, karena bus kami tak bisa naik. Terpaksa bus harus parkir di Watu Ulo. Untuk ke Tanjung Papuma dibutuhkan 10 menit perjalanan dan jalannya menanjak menakutkan karena belokkannya. Tak menyia-nyiakan waktu, berhenti di Watu Ulo, kami ke Watu Ulo dulu, setelah puas, kami baru naik ke Tanjung Papuma dengan ojek. Cukup 5ribu untuk ongkos ojek. Tanjung Papuma sungguh menakjubkan. Ombaknya berdeburan sangat tinggi. Secara langsung lautan lepas. Pemandangan yang tak bisa di dapatkan di Mojokerto maupun di Surabaya. hehe. Memanfaatkan pemandangan yang mewah itu, kami, aku dan mbak berfoto-foto. action gk tahu malu.hehe. Setelah puas, kami pun pulang pukul 4 sore. Perjalanan yang melelahkan namun puas. 


Liburan Ketiga, liburan ini aku bersama keluarga baruku. Karena aku tak lagi di Mojokerto. Aku sudah balik ke Surabaya lagi. Di Surabaya, ada Mbak Ida dan suaminya, serta adik-adik. Aku dijemput suami tercinta untuk pulang ke Surabaya hari Kamis. Hari Jumatnya, langsung jalan-jalan deh dengan mereka. Sebelumnya sih bingung mau kemana, bahkan berangkat pun masih belum tahu tujuan berliburnya. Huft payah.hehe. Kami berangkat dari rumah pukul 07.00. Kami melaju aja menuju Pandaan. Awalnya kami memang berencana ke Taman Dayu yang dari depan memang megah itu. Sampai di Taman Dayu Pandaan, sedikit geli dengan pemandangan yang kami temui di sana. Di sana hanya ada foodcourt dan tumbuh-tumbuhan yang ditata rapi. jika kita jalan-jalan di sana tak mungkin kepanasan deh. Karena daun-daunnya menutupi pandangan ke langit. Tumbuh-tumbuhan itu berjajar sepanjang jalan itu. Mungkin karena kami tak puas, akhirnya kami harus mencari objek yang lain yang dekat dengan Taman Dayu. Kami melakukan perjalanan yang tak tahu arah. Jalannya pun naik turun, belok-belok. Lagi-lagi ada ketakutan yang sama aku rasakan saat ke Sendi. Aku takut Mioku tak bisa naik, yang waktu itu dikendarai Mbak Ida dan adik. Tapi tak ada kendala apapun. Akhirnya kami sampai di Air Terjun Kakek Bodo Prigen. Untuk menuju ke Air terjunnya sungguh jauh sekitar 15 menit perjalanan dari pintu gerbangnya dan harus berjalan kaki untuk kesana. Pemandangan yang menemani perjalanan kami menuju air terjun lebih cantik daripada di Coban Rondo Batu. Meskipun jalannya naik turun tapi jalannya tertata apik. Selama perjalanan kami tak henti-hentinya narsis berfoto-foto. hehe.keluarga narsis katanya. Sampai di Air terjun, airnya dingin. tapi air terjunnya tak sebesar di Coban Rondo. Kami menghabiskan waktu di sana untuk berfoto2 ria. hehe. Setelah puas, kami pulang. 



Karena hari itu Hari Jumat, kami harus mencari masjid untuk Jumatan. Kami memutuskan untuk ke Masjid Muhammad Cheng Ho Pandaan, Tiba-tiba hujan turun, selama yang laki-laki jumatan, kami berteduh. Sebelum pulang kami mengabadikan masjid yang indah itu dengan berfoto-foto lagi.hehe. dasar narsis. Pulang langsung tepar. Capek tapi Puas.


Sungguh Liburan tak Seperti Tahun-tahun kemarin....


 

Kamis, 13 Desember 2012

Merefresh Kemampuan




Tiba-tiba diminta adek untuk membuatkan puisi bertemakan "Narkoba". Ya meskipun aku tidak begitu mahir, akan kuusahakan merangkaikan kata-kata yang aku bisa. Pikir dipikir..akhirnya kuhasilkan sebuah puisi yang mengandung harapan ada tempat di hati para juri lomba itu. Berikut hasilnya

Bara Penderitaan

Kakiku menapak, di atas kerikil-kerikil yang membara
Di hadapku, dalam pandangku…
Baranya membawaku dalam gelisah  
Semakin kupijak, semakin mendidihkan darahku

sisi lain satu persatu melepas nyawa
merangkak menuju Dia Sang Pemberi hidup

sedangkan lainnya tergeletak…
dalam ruang sepetak

Aku, berada dalam kegelapan
yang membungkam kedua mata hatiku
Aku melihat, tapi aku buta
tak tahu mana yang ada
Dan mana yang tiada

Tapi, dapat kurasakan dan kudengar
Teriakan, rintihan yang tak beraturan
Semakin keras semakin memekik
Penderitaan mencekik

Rentetan pertanyaan mengelayutiku
bahkan mencekikku
memintaku merasakan kenikmatan penderitaan itu

Siapa tak berhati?
menusukkan derita dalam sekejap kenikmatan
Siapa tak berhati?
berbuat tanpa akal dan nurani
menyiksa, menerkam, membunuh!
Tua, muda bahkan anak-anak
mereka tak memandang!!!

Cucuran air mata tak mampu memadamkan bara
Dari mereka yang ditinggalkan
Dari mereka yang terabaikan
Mereka tak henti berkata
Mengapa kau salah mengambil arah?
hingga pergi terkubur dengan penderitaan

Kuharap ada kritik dan saran untuk puisi ini. Terima kasih.

Sabtu, 01 Desember 2012

Kabar Blog

Wawancara Nukman Luthfie: Pudarnya Pamor Blog

TEMPO.CO, Jakarta - Menulis di blog tak sama dengan menulis di microblog seperti Twitter. Perbedaan mencolok yang terlihat adalah jumlah karakter yang tersedia. Selain itu, ide dan argumen yang ditampilkan di Twitter tak seutuh ketika menulis di blog.

Menulis di blog tak sama dengan menulis di microblog seperti Twitter. Sayangnya, justru orang kini lebih senang menulis di microblog. Sebab, banyak pemilik blog yang semula rajin mengaktualisasi diri lewat tulisan di blog kini beralih ke jejaring sosial yang hanya butuh tulisan pendek.

Tren ini terjadi lantaran karakter kreator yang diperlukan untuk membangun sebuah blog tak dimiliki banyak orang. "Jumlah kreator tidak banyak. Mereka kebanyakan adalah conversationalist,” kata Nukman Luthfie.

Padahal, bila sifat kreator dikembangkan, para blogger ini bisa menjadi conversationalist atau ahli cakap yang lebih berisi. Berikut ini pandangan Nukman terhadap perkembangan blogger di Indonesia kepada wartawan Tempo, Erwin Zachri.

Seperti apa awal perkembangan blog?
Dulu, yang namanya media sosial awalnya berbentuk forum. Lalu berkembang ke blog, Friendster, dan kemudian menjadi seperti sekarang.

Perbedaan antara blog dan media sosial?
Blog adalah satu-satunya tempat untuk mengaktualisasi diri dengan tulisan panjang, kalau forum bukan. Blog mulai ramai sekitar tahun 2006. Kemudian muncul Friendster dan Multiply, yang dilengkapi dengan blog.

Adakah pengaruh jejaring sosial terhadap blog?
Media sosial baru muncul dan berekspansi dengan karakter tulisan pendek, seperti Twitter, Tumblr, dan Facebook. Ini memunculkan tren baru dan disukai mereka yang tidak tahan (membaca) tulisan panjang.

Akibatnya, muncul kasta baru, yakni teknografi sosial—sebagai cara baru memetakan pasar. Dulu pasar dipetakan secara demografis dan psikografis.

Lantas?
Dengan perkembangan yang ada dan orang semakin mobile, media sosial dipecah lagi menjadi kreator dan conversationalist. Kreator adalah mereka yang punya laman atau blog sendiri yang terus di-update secara reguler, sehingga media mereka hidup. Conversationalist adalah orang yang suka mengobrol, punya akun di microblog, dan sangat aktif.

Mereka inikah yang berkembang?
Orang di level ini sangat susah jadi kreator karena harus menulis panjang. Tapi orang kreator bisa menjadi conversationalist. Terjadi peralihan di sini.

Ini berdampak menurunnya popularitas blog?
Blog yang dulu ramai kemudian menurun, dan hanya beberapa yang bertahan. Memang karakter conversationalist seperti itu. Di Twitter mereka cerewet. Jumlah kreator memang tidak banyak, yang banyak adalah conversationalist.

Bagaimana dengan tren memanfaatkan blog untuk menghasilkan uang?
Orang nge-blog karena ingin menulis. Tapi ada yang nge-blog untuk mencari uang, bukan karena passion. Blog yang bertujuan mencari uang sering kali isinya tidak jelas.

Ada data tentang perkembangan mereka?
Saya tidak tahu. Mereka hanya menjadikan blog sebagai media mencari uang. Sementara (aktivitas) blogger itu sebenarnya menulis.

Menyelami Dunia Pramuka

Tepuk Pramuka
Pramuka...
Pramuka...
Praja muda karana

Pramuka...
Pramuka...
Praja muda karana

Mungkin kalian gk asing lagi dengan "Pramuka"

Gerakan Pramuka Indonesia adalah nama organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan yang dilaksanakan di Indonesia. Kata "Pramuka" merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti Rakyat Muda yang Suka Berkarya.
"Pramuka" merupakan sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka, yang meliputi; Pramuka Siaga (7-10 tahun), Pramuka Penggalang (11-15 tahun), Pramuka Penegak (16-20 tahun) dan Pramuka Pandega (21-25 tahun). Kelompok anggota yang lain yaitu Pembina Pramuka, Andalan Pramuka, Korps Pelatih Pramuka, Pamong Saka Pramuka, Staf Kwartir dan Majelis Pembimbing Pramuka.
Sedangkan yang dimaksud "Kepramukaan" adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur. Kepramukaan adalah sistem pendidikan kepanduan yang disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Sejarah

Lambang identitas dari INPO yang berupa bendera merah dan putih berukuran 84 cm X 120 cm.
Gerakan Pramuka atau Kepanduan di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1923 yang ditandai dengan didirikannya (Belanda) Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung.[1] Sedangkan di tahun yang sama, di Jakarta didirikan (Belanda) Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO).[1] Kedua organisasi cikal bakal kepanduan di Indonesia ini meleburkan diri menjadi satu, bernama (Belanda) Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) di Bandung pada tahun 1926.[1]
Pada tanggal 26 Oktober 2010, Dewan Perwakilan Rakyat mengabsahkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Berdasarkan UU ini, maka Pramuka bukan lagi satu-satunya organisasi yang boleh menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Organisasi profesi juga diperbolehkan untuk menyelenggarakan kegiatan kepramukaan. [2]

Tujuan Kepramukaan

Gerakan Pramuka sebagai penyelenggara pendidikan kepanduan Indonesia yang merupakan bagian pendidikan nasional, bertujuan untuk membina kaum muda dalam mencapai sepenuhnya potensi-potensi spiritual, social, intelektual dan fisiknya, agara mereka bias:
  • Membentuk, kepribadian dan akhlak mulia kaum muda
  • Menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air dan bela negara bagi kaum muda
  • Meningkatkan keterampilan kaum muda sehingga siap menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, patriot dan pejuang yang tangguh, serta menjadi calon pemimpin bangsa yang handal pada masa depan.

Prinsip Dasar Kepramukaan

Lambang Kwarnas Gerakan Pramuka Indonesia
Gerakan Pramuka berlandaskan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:
  • Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  • Peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam
  • Peduli terhadap dirinya pribadi
  • Taat kepada Kode Kehormatan Pramuka

Metode Kepramukaan

Metode Kepramukaan merupakan cara belajar interaktif progresif melalui:
  • Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka
  • Belajar sambil melakukan kegiatan yang menyenangkan atau menghibur
  • Sistem berkelompok
  • Kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik
  • Kegiatan di alam terbuka
  • Sistem tanda kecakapan
  • Sistem satuan terpisah untuk putera dan puteri
  • Kiasan Dasar

Keanggotaan

Gerakan Pramuka Indonesia memiliki 17.103.793 anggota (per 2011)[3] , menjadikannya gerakan pramuka terbesar di dunia.

Sifat

Orgnasasi Kepanduan Indonesia di seputaran tahun 1920-an.
Lambang Gerakan Pramuka (menurut Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) adalah Tunas Kelapa, dikenakan pada kerah kiri baju pramuka dan Lambang WAGGGS yang dikenakan pada kerah kanan baju pramuka puteri. Sedangkan untuk putera, Lambang Gerakan Pramuka dikenakan pada kantung sebelah kiri, sedangkan Lambang WOSM pada kantung sebelah kanan kemeja. Emblem lokasi wilayah Gerakan Pramuka (berdasarkan provinsi) dikenakan pada lengan sebelah kanan baju Pramuka.
Berdasarkan resolusi Konferensi Kepanduan Sedunia tahun 1924 di Kopenhagen, Denmark, maka kepanduan mempunyai tiga sifat atau ciri khas, yaitu :
  • Nasional, yang berarti suatu organisasi yang menyelenggarakan kepanduan di suatu negara haruslah menyesuaikan pendidikannya itu dengan keadaan, kebutuhan dan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.
  • Internasional, yang berarti bahwa organisasi kepanduan di negara manapun di dunia ini harus membina dan mengembangkan rasa persaudaraan dan persahabatan antara sesama Pandu dan sesama manusia, tanpa membedakan kepercayaan/agama, golongan, tingkat, suku dan bangsa.
  • Universal, yang berarti bahwa kepanduan dapat dipergunakan di mana saja untuk mendidik anak-anak dari bangsa apa saja

Lagu

Pramuka memiliki satu buah lagu, yakni Hymne Pramuka.

Kami Pramuka Indonesia
Manusia Pancasila
Satyaku kudharmakan, dharmaku kubaktikan
agar jaya, Indonesia, Indonesia
tanah air ku
Kami jadi pandumu.



Waduh kok tahu segitu detailnya ya soal Pramuka...Eits...jangan salah sangka dulu..ni hasil copasku di http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_Pramuka_Indonesia
Jujur ya, dulu aku bukan siswa yang aktif dalam keanggotaan Pramuka. Jadi bisa dibilang aku masih awam soal Pramuka. Waktu itu aku ikut pramuka karena diwajibkan oleh sekolah, jadi ya terpaksa ikut biar gk dapat hukuman. Sekolah jauh dari rumah dan waktunya pun sore hari. Jadinya malas mau balik ke sekolah lagi.

Di sekolahku tempat aku mengajar sekarang, ada ektra Pramuka. Tapi nggak ada pembina Pramukanya, jadi ya guru nyambi pembina. Alhasil aku sama salah satu guru yang lain, Bu Novi tadi sore cari seragam pramuka untuk pembina. Di luar apa yang aku bayangkan. Cari seragam itu sungguh susah. Di mana-mana nggak ada. Akhirnya dapat, tapi harganya...Waaawww...ya wes terpaksa diambil daripada cari lagi dan belum tentu ada. 

Minggu depan kegiatan Pramuka akan dilaksanakan. Mudah-mudahan aku bisa jadi pembina yang baik meskipun aku tak mempunyai latar belakang untuk itu. Amin..


Tepuk Pramuka
Pramuka...
Pramuka...
Praja muda karana

Pramuka...
Pramuka...
Praja muda karana

Mungkin kalian gk asing lagi dengan "Pramuka"


Oleh : Didie DiaAsa