Minggu, 27 Mei 2012

Berawal dari niat

Asal ada niat pasti ada jalan 
Kalimat itu yang sering aku dengar. Memang semua berawal dari niat. Tapi bukan hanya niat yang kita perlukan dalam perjalanan menuju impian kita. Tapi ada usaha yang harus kita lakukan dan doa sebagai usaha spiritual kita. Karena semua keberhasilan tak lepas dari kehendak Tuhan. Yang namanya perjalanan pun tak selamanya lurus dan mulus. Pasti ada hambatan dan kegagalan yang harus dilewati. 
Kegagalan adalah awal dari kesuksesan
Dalam menyikapi kegagalan janganlah dengan keputusasaan yang menghentikan langkah kita menuju cita-cita kita. Tapi kegagalan harus disikapi dengan semangat baru untuk menuju semua itu dengan bertolok dari kegagalan sebelumnya. 
Besok aku akan mulai melangkah untuk meraih mimpiku. Begitupun misananku. Dia besok juga akan berjuang untuk cita-citanya. Semoga dengan bermodal niat, usaha, dan doa akan menemukan setitik keberhasilan yang akan menjadi awal segalanya. Amin
Aku akan menelusuri jejak2 keberhasilan yang tersisa untukku. 
Suami dan keinginanku adalah semangatku.

Cayooo Deffi 'n Dia

Rabu, 23 Mei 2012

Warna Warni

Hidup adalah proses. Dalam proses itulah diri kita digembleng dengan berbagai ujian baik berupa masalah/kenikmatan. Hingga pada hasil akhirnya diharapkan kita dapat menemukan diri kita yang sejati atau biasa disebut jati diri. Persoalan jati diri bukan hanya sekedar sikap atau sifat. Tapi lebih jauh dari hal itu, berhubungan dengan Maha Pencipta. Bagaimana proses manusia dalam menuju tujuan utama hidup yaitu kepada Tuhan. 
Acapkali dalam menemukan jati diri dihubungkan dengan proses pendewasaan seseorang. Memang semua itu terkait dalam hal pembawaan diri kita dalam menyikapi hidup. Seseorang dikatakan dewasa bukan dilihat dari umur seseorang tapi sikap seseorang dalam menghadapi segala hal yang ada dalam hidupnya. Sikap bukan berarti tingkah laku saja, tapi cakupannya lebih luas yang meliputi penataan hati, pola pikir, tapi tetap harus semua dihubungkan dengan tujuan utama hidup. 

***
Hahay..tapi tak sedalam itu hidupku. Hehe. Intermezo doang. Sebenarnya aku bisa dibilang sudah berumur yaitu umurku sekarang 24 tahun. Kalau dilihat umur sih termasuk udah dewasa bukan remaja lagi. Ditambah lagi statusku yang sudah berumah tangga, wah tambah dewasa itu alias ibuk-ibuk. Hezzz enak aja masih imut kali. tetepnarsis.com Orang yang berani memutuskan untuk mulai berumah tangga adalah orang yang telah mampu menjadikan dirinya "dewasa". Dalam rumah tangga, orang tidak hanya mengurus dirinya sendiri, dia sudah harus mengurus suami/istri dan anaknya. Otomatis masalah juga akan bertambah. Pikiran juga sudah tak sesederhana waktu masih lajang. 

Untung aku mempunyai suami yang sudah "dewasa" meskipun umurnya hanya satu tahun di atasku. Secara, dia telah menjadi tulang punggung keluarga sejak lulus SMA. Dia mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarganya. Salut wes pokoke. Bangga deh punya suami kayak dia. Dia juga mampu menyeimbangiku dalam segala hal. Dia banyak memberikan masukan dalam hidupku. Dia mampu mengatasi diriku yang emosinya suka meledak-ledak. Untung bukan BOM. Dia aku nilai kriteria pria yang bukan hanya penyabar tapi sangat amat sabar sekali. Lebay deh. Dia banyak mengalah, soalnya dia tahu sifatku. Egois ya aku. Kasihan suamiku. 

Bisa dibilang aku masih seperti anak kecil suka bersikap manja. Dan kalau tidak dituruti suka ngambek nggak jelas gitu. Terkadang aku bersikap layaknya masih lajang dulu. Lupa kali kalau sudah punya suami. Waduh ni belum punya anak. Banyak hal yang seharusnya dilakukan orang yang berumah tangga. Aku terkadang berat untuk melakukannya. Bisa dibilang aku menganggap suamiku bukan sebagai suami, tapi layaknya sahabat, kawan, saudara. Seperti bukan orang berumah tangga. Ingin tertawa saat membayangkannya. Aku merasakan hal itu dalam pernikahan kami. Mungkin semua butuh proses. Tapi kadang aku juga bisa bersikap dewasa. Suamiku juga gitu kadang bertingkah lucu kayak anak kecil. Jadi bikin gemes. Aneh sih. 

Jadi intinya, pendewasaan tidak bisa diukur oleh apapun. Kadang seseorang bisa bersikap dewasa pada saat yang dibutuhkan. Kadang juga seseorang bersikap seperti anak kecil pada saat yang dibutuhkan pula. Hidup harus penuh warna biar tidak mengidap penyakit yang sangat mengerikan yaitu BOSAN. 
Tapi tetap hati dan pikiran fokus pada jati diri.

***

Oleh : Didie DiaAsa

Senin, 21 Mei 2012

Amburadulll

Setelah hampir seminggu, aku berada di rumah tercintaku di Kembangringgit. Rasanya lega banget berada di rumah lebih lama dari biasanya. I always miss my sweet home. Ya selain refreshing di desa, aku juga ada keperluan. Bulek punya hajat sunatan. Jadi sebelumnya aku udah di sana. Padahal aku di sana nggak ngapa-ngapain. Hehe. Kalau dibilang cuma alasan aja sih emang benar. Sementara aku di rumah, suamiku harus meluncur ke Jombang. Di sana dia mengurus adeknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ibu Mertua juga ada di sana. Dan Alhamdulillah adek udah sembuh meskipun belum sembuh total. Aku nggak ikut ke Jombang soalnya suamiku harus kembali ke Surabaya lagi.
Setelah adek dibolehkan pulang dari Rumah sakit, suamiku langsung ke Surabaya. Cuma 1 hari di Surabaya, dia perjalanan lagi ke Kembangringgit untuk menjemputku sekaligus laden (membantu) di hajatannya Bulek. Pagi tadi kembali harus pulang ke Surabaya, soalnya katanya janjian sama orang. Eh orangnya nggak datang-datang.

Sebenarnya bukan itu inti ceritanya, itu hanya perjalanan menuju inti cerita alias pembuka saja. Inti ceritanya terjadi saat aku tiba di Surabaya. Sungguh tak kusangka rumahku memang tak berpenghuni. Terbukti dengan keadaan rumahku saat itu. Baru aku buka pintu, barang2 berserakan di mana-mana. Semakin ke dalam semakin suram kumelihat keadaan rumahku. TV yang tadinya berada di atas berpindah tempat di ruang tengah dan tak tertata. Toples-toples berkeliaran menutupi jalan ke dalam. Kamar-kamar seperti kapal pecah. Sprei semburat seperti dimainin oleh anak2 yang berloncat-loncat di atas kasur. Di lantainya bergerumbul pakaian-pakaian kotor. Kipas angin yang menempel di dinding kamarku berpindah tempat di kamarnya ibuk. Kipas angin di kamarnya ibuk ada di atas meja. Alat pancing berada di atas meja. 

Oh my God. Ditinggal beberapa hari saja udah kayak gini. Pengen jerit rasanya. Perasaan saat aku tinggal pulang, kondisi rumah dalam keadaan rapi dan bersih. Mungkin kalau karena debu saja lumrah. Tapi kalau benda-benda dalam rumah berpindah tempat perlu dipertanyakan lebih jauh lagi. Apakah ini perbuatan manusia atau hewan. Kalau hewan nggak mungkin, soalnya di rumah hewannya nggak ada singa atau harimau, hanya ada tikus dan sebangsanya. Nggak mungkin kan tikus bisa memindahkan benda-benda berat seperti TV, kipas angin dsb. Apakah ini ulah raja Tikus yang ingin menguasai rumah ini selagi aku tak ada. Menyalahkan tikus kayaknya harus dipikir ulang lagi. Kira-kira siapa ya? Apakah penunggu rumah ini? Apakah mungkin aku bisa bertahan dengan keadaan seperti ini. Tak ada satu pun yang mendukungku untuk menciptakan rumah bersih dan rapi. Padahal dengan rumah bersih dan rapi, orang yang tinggal akan merasa nyaman. Semuanya amburadul. Kalau begini caranya, mungkin jika aku nanti hamil, aku mending ngungsi di desa aja. Mungkin mereka yang di sana bisa mendukung niatku.

Tapi entahlah, di sini adalah tempat tinggalku selamanya bersama suamiku. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa nyaman tinggal di sini. Dan pertanyaan itu ke mana harus aku sampaikan? Sungguh hidup yang amburadul membuatku tak nyaman.

Selasa, 15 Mei 2012

Kami sayang....

Haduw kok jadi kebalik gini ya. Kemarin aku yang berencana untuk meninggalkan suamiku..kok sekarang aku yang ditinggalin. Pengen tertawa sendiri..Merana-merana

***
Kejadian itu bermula ketika pukul 02.45, adek Ulul sms aku. Inti isi smsnya "Ibuk suruh pulang sekarang ke Jombang, soalnya adek Ulit sakitnya tambah parah. Adek muntah2 terus dan sempat pingsan" Aku yang setengah mengantuk. Membacanya sekilas terus tidur lagi. Selang beberapa menit, aku dan suamiku dikagetkan oleh tangisan ibuk. Ibuk tiba-tiba masuk ke kamar kami sambil mengusap-usap air matanya. Ibuk ingin diantar ke Jombang saat itu juga. Padahal sebelumnya Ibuk berencana pulang ke Jombang hari Jumat, setelah membantu tetangga gawe. Akhirnya, ba'da subuh tepat, suamiku dan Ibuk langsung meluncur ke Jombang.

****
Sekarang aku sendirian deh jaga rumah. Rencananya aku tutup aja. Nggak buka warnet maupun warungnya. Tapi setelah dipikir2, daripada aku bengong sendirian di rumah mending aku buka aja warnetnya. Kalau warungnya nggak mungkin soalnya kopi dan rokoknya habis. 
Nggak apa-apalah..ditungguin seadanya pelanggan yang datang aja. Toh rejeki nggak akan ke mana. Jaga sendirian deh di warnet. Mudah-mudahan meskipun tak ada suami, warnetnya rame. Amin.

Buat adek Ulit yang di sana. Cepet sembuh ya dek. Biar bisa becanda-canda lagi. Kami sayang semua ma adek. Maaf aku tak bisa nungguin saat adek lemah di Rumah Sakit.

Oleh : Didie DiaAsa

Ku Kan Merindukanmu

Hari Rabu tanggal 16 Mei 2012 adalah waktu yang aku tunggu-tunggu karena waktu itu adalah kesempatanku bertemu dan berkumpul dengan keluargaku lebih lama dari biasanya. Sekaligus sebagai moment liburan ke desa alias Desa Kembangringgit. hehe. Senang rasanya setelah sekian lama ku tak mengunjungi mereka. Hampir 1 bulan aku tak pulang ke kampung halaman. Soalnya biasanya seminggu sekali aku pulang meskipun hanya 2 hari 1 malam aku di desa tapi lumayan mengobati rasa kangenku pada mereka. Berbeda rasanya berdiam diri di rumah jika di kota dengan berdiam diri jika di desa. Di desa suasananya sangat menentramkan sehingga meskipun nggak ke mana-mana aku tetep aja kerasan (betah) di sana. Di kota begitu penuh dengan kepenatan dan kebisingan yang membuatku gerah. Heran kenapa orang pada berbondong-bondong memenuhi setiap wilayah di kota. Dibela-belain kontrak, kos di kota. Padahal di desa rumahnya jauh lebih besar dari kontrakan/kosannya di kota. Dasar manusia..

Btw, ngomong-ngomong eh sama aja ya, aku pulang ke desa dalam waktu yang lama agak berat juga sih. Soalnya aku bakal ninggalin suamiku tercinta di rumah Surabaya. Dia bakal sendirian di sana. Ibuk mertua harus jenguk adek yang lagi sakit di Jombang. Kasihan suamiku. Maaf ya sayang. Suamiku nggak bisa ikut aku berlama-lama di desa. Dia harus bekerja mencari nafkah untuk membayar ini itu. Maklum dia kan tulang punggung keluarga. Setelah mengantarku pulang ke desa, mungkin dia hanya menginap semalam di sana. Trus harus balik ke Surabaya. Entar seminggu kemudian, dia menjemputku untuk pulang lagi. Di desa ada hajatan di rumahnya Lek (Tante). Jadi aku harus di desa lebih lama.

Kira-kira bisa tenang nggak ya aku di desa. Aku pasti akan merindukan selalu suamiku. Ya seperti saat-saat kita pacaran dulu. Dia di Surabaya, aku di Mojokerto. Kangen banget rasanya. Setiap detik rasa itu aku rasakan dulu. Apalagi sekarang sudah jadi suami, pasti terasa banget rasa kesendiriannya. Setelah kebersamaan bersama suamiku sudah aku rasakan sekian waktu, tiba-tiba harus sendiri lagi. Tapi aku rindu seperti itu apakah suamiku juga bakal rindu ma aku? Mudah-mudahan..Tak peduli pokoknya 








*** I Miss You So Much***










Oleh : Didie DiaAsa

Jumat, 11 Mei 2012

Berharap Secuil Mukjizat

Sudah seminggu terakhir ini aku merasakan seperti ini. Perut nggak enak, pengen muntah tapi g bisa. Andai saja bisa, pasti agak lega sedikit. Bawaannya males mlulu. Semua berharap hal itu akan terjadi. Tapi kami hanya bisa berharap dan berdoa kepadaMu ya Rabb.
Mungkin hanya sekedar berharap, tadi siang harapan itu pupus dengan datangnya tamu tiap bulan itu. Ada sedikit raut kecewa di wajah suamiku setelah aku katakan bahwa aku nggak telat. Aku tahu dia tersenyum hanya untuk menghiburku. Maafkan aku suamiku, aku hanya manusia biasa yang tak kuasa berkehendak atas segalanya.
Semoga kau tak akan berubah sikapmu kepadaku pada akhir2 ini setelah mendengar hal itu. Aku pun ingin menangis merasakan kekecewaan yang ada di dalam diri orang-orang sekitarku. Memang sebelumnya mereka telah berharap lebih pada pernikahan kami. Sebuah beban yang mungkin aku jalani hanya dengan doa dan ikhtiar saja.

***
Aku hanya bisa berdoa dalam surat ini kepadaMu Tuhan

Tuhan, aku tahu Engkau akan memberikan yang terbaik untuk semua hambaMu
Tuhan, aku tahu Engkau menakdirkan demikian untuk kebaikan hambaMu

Tapi Tuhan, bolehkah aku meminta secuil keajaiban dariMu
Bolehkah aku berharap seujung mukjizatMu
Bolehkah aku memohon ujung kebaikan yang Kau punya

Aku tak ingin mengecewakan orang-orang di sekitarku
Aku tak ingin mereka terlalu lama berharap
Aku tak ingin mereka cuma bertanya-dan bertanya

Aku ingin mewujudkan keinginan mereka
Aku ingin menyempurnakan ibadahku dengan suamiku ini
Aku ingin melihat mereka tersenyum mendengar kabar keajaibanMu itu

Tuhan hanya secuil mukjizat yang Kau berikan akan membawa kebahagiaan bagi kami semua
Ku hanya manusia biasa. 
Ku hanya bisa berharap.
Berharap Secuil Mukjizat

***
Bersama suamiku (Bakoel Kopi) ku bersimpuh padaMu


Rabu, 09 Mei 2012

Owwww...Noooo

Saat aku kembali ke Dayang Sumbi untuk beli jamu, menjadi kebiasaan untuk mengukur berat badan. Dan sungguh aku tidak menyangka..berat badanku dan suamiku bertambah. Waw hebat donk selama ini usaha suamiku berhasil untuk program pengemukan badan. Dia berat badanya naik 5 kg. Dari sebelumnya 45 kg sekarang 50 kg, makanya kok tambah bulet.hehhe...Yang aku sesalkan adalah apa yang terjadi padaku. Berat badanku naik 4 kg dari sebelumnya 50 kg menjadi 54 kg. Wah super gemuk nie. Rencananya penurunan berat badan cz kelebihan 4 kg dari berat badan ideal eh kok malah naik 4 kg. Ohhh tidak. Gara-gara aku gemuk aku dikira orang udah hamil. Amin saja deh kalo memang demikian.
***
Program Diet
Mulai kemarin aku sudah mengurangi kebiasaan buruk pada diriku. Berat badanku harus turun. Apalagi mertua sudah protes melulu soalnya aku jadi gemuk. Katanya "Wes sakmunu ae nduk, ojo dilemokno maneh (Sudah segitu saja nak, jangan digemukin lagi" Padahal aku juga nggak ada niat untuk menggemukkan badan. Mungkin sudah bawaan orok kale..Padahal orang tuaku sendiri nggak protes tu kalau aku gemuk. Apalagi suamiku, aku malah nggak boleh diet. Tidak apa-apa katanya gemuk. Aku bilang "bajuku sudah banyak yang g muat" katanya "Ya beli lagi" Haduh..suami yang setia dan mau menerima aku apa adanya memang. Lebay..Kok mertuaku yang protes ya. Demi membahagiakan mertua nggak apa-apalah tersiksa dikit. Aku sudah mulai program diet itu perlahan di antaranya :
  • Mulai mengurangi porsi makan
  • Mulai mengurangi nyemil di malam hari. Kalau lapar, minum air putih saja.
  • Mulai banyak minum air putih, yang dulunya sering minum es
  • Mulai sering mengkonsumsi makanan yang berserat.
  • Apalagi ya...mungkin itu dulu untuk sementara. Perlahan tapi pasti
Mudah-mudahan ini berhasil. Kalau niat pasti ada jalan. hahah. kayak apa aja. Mertuaku juga tambah bingung lagi. Mau makan aja bingung. Bukannya apa cz juga tambah gemuk. Haduw aku yang masih muda saja kalah. Wes mbois pokoke mertuaku itu. Nggak mau kalah ma anak muda. Beliau sudah nggak mau minum vitamin lagi dari dokter soalnya itu yang membuat nafsu makannya meningkat. Besok beliau rencananya mau puasa lagi. Nggak tahu kuat apa nggak. Semoga berhasil
***
SEMANGAT

Oleh |: Didie DiaAsa

Senin, 07 Mei 2012

Terkenang Saat Terbayang

Ketika aku membaca ceritanya Surat Kecil Untuk Tuhan, aku terkenang masa silam yang sempat membuatku down tak semangat untuk hidup lagi. Dalam segala aktivitasku waktu kuliah aku jalani dengan terbayang-bayang apa yang terjadi padaku. Ada ketakutan yang mendalam dalam hatiku yang membuatku sering menangis saat kumulai sendiri di kamar kosan. Aku takut bukan karena sakit yang aku derita, tapi yang aku takutkan lama-lama orang sekitarku akan tahu penyakitku, terutama kekhawatiran orang tuaku jika mengetahui hal ini. 
****
Bagaimana tidak waktu SMA orang tuaku berhasil kubuat khawatir 100% dengan pernyataan bahwa ada benjolan di badanku yang rentan. Menurut survey jika menderita penyakit itu kecil kemungkinan untuk sembuh. Semakin khawatir orang tuaku karena saudara dari bapak juga pernah menderita seperti aku. Dan beliau saat ini telah tiada.
Setelah mendengar hal itu dari mulutku, aku langsung dibawa ke rumah sakit oleh orang tuaku untuk dilakukan operasi. Aku pun dioperasi dengan sukses. Saat itu juga aku langsung pulang. Selang beberapa bulan sakit itu muncul lagi. Aku sebenarnya takut banget untuk mengatakannya pada orang tuaku, tapi kalau nggak aku katakan, aku semakin dimarahi karena aku menyembunyikannya dan tentunya membahayakanku entar. Untuk itu aku beranikan diri untuk mengatakannya pada orang tuaku. 
Kali ini aku dibawa ke dokter lagi bukan untuk operasi melainkan untuk memastikan apakah sakitku kali ini memang kambuh atau apa. Dan ternyata kata dokter itu sakitku itu masih jinak tapi kalau dibiarkan takutnya akan menjadi ganas. Alhasil dengan berbagai cara aku tempuh. Aku tak mau lagi dioperasi. Aku dan orang tuaku mulai mencari informasi mengenai pengobatan alternatif. Mulai dari bentuk jamu racikan, pijat, sampai daun-daunan. Tapi semua itu hanya mengurangi rasa sakit saja. Hingga suatu saat sakit itu menyerangku yang berhasil membuatku meneteskan air mata karena aku tak kuasa menahan rasa itu. Aku kuatkan untuk browsing di internet mengenai obat alternatif untuk penyakitku itu, aku temukan tumbuhan Keladi Tikus. Nama itu baru aku dengar. Aku pun tanya pada masku (pacarku) tentang tumbuhan itu apakah dia tahu. 
Aku memintanya untuk mencari tumbuhan itu. Mungkin saat itu dia bingung apa yang aku maksud. Memang sebelumnya dia tak pernah aku kasih tahu mengenai sakitku ini. Dia bertanya kepadaku untuk apa tanaman itu. Aku bingung untuk menjelaskan kepadanya. Sebenarnya aku tak ingin dia ikut khawatir tentang keadaanku. Dia terus memaksaku sehingga dadaku sesak menahan semuanya. Aku akhirnya menceritakan semuanya sambil berlinang air mata. Aku tak sanggup lagi menceritakan itu semua kepadanya. Dia sepertinya ikut sedih dan merasakan apa yang aku rasakan. Dia menyesali karena aku tak pernah menceritakan ini padanya. Tanpa aku ketahui dia menulis puisi untukku. Berikut puisinya 

Aku ada untukmu ....

Jangan pernah ada pedih yang kau simpan
Jangan kau terus terpuruk dalam kegelapan
Hidup ini hanya sementara
Dan jangan pernah kau ikat dalam samsara

Akankah kau terbang sendiri dengan sayapmu

Menahan beratnya beban di pundakmu
Akankah kau menahan semua pilu yang menghambat langkahmu
Menuju sebuah mimpi yang telah kau rajut semasa kecilmu

Percayakan pada semua orang yang menyayangimu

Percayakan hatimu pada diriku
Karena hatiku kan selalu ada untukmu
Menopangmu semampuku

Di sini kita berbagi

Mencari sebuah jalan lain dari kehampaan ini
Aku akan terbang bersamamu
Agar ku bisa menahan peluh di hatimu

Ingatlah hari esok masih panjang

Yakinlah Tuhan pastikan menunjukkan jalan
Bersama kita lalui
Bersama kita lewati

Puisi ini kupersembahkan buat Adinda Tersayang (Didie)

 
Pertama kali aku membacanya, aku terharu. Begitu pedulinya dia padaku. Dia tak meninggalkanku dengan keadaanku yang demikian. Aku semakin salut sama dia. Apakah ini yang disebut setia. Aku tak pernah terpikir untuk mencari yang lain lagi, karena dia cukup bagiku.

Dia dengan berbagai kemampuannya, mencari informasi mengenai tanaman itu. Akhirnya dia menemukan di sebuah toko penjual obat tapi dalam bentuk kapsul. Setiap dia menjengukku di kosan, dia selalu membawa obat itu. Dan dia minta aku bilang jika obatnya habis. Karena jarak kami jauh saat itu Surabaya - Malang jadi sekali bawa, 2 botol dan 1 botol isi 50 kapsul. Hampir setahun aku minum itu, tapi sama saja hanya mengurangi rasa sakit saja, tak bisa menyembuhkan. Aku mulai browsing lagi pengobatan alternatif. Kutemukan Dayang Sumbi yang memproduksi jamu dari toga. Aku minta masku untuk mengantarku ke sana. Aku pun melakukan terapi dengan jamu dari sana. Hampir 1 tahun lebih dan itu sudah 4 kali cek lab. Terakhir cek lab, dinyatakan membaik, meskipun benjolannya masih ada. Dan kalau punya anak akan hilang sendiri.

***
Aku dan masku (sekarang suamiku) optimis akan sembuh total. Dengan doa dan usaha semua akan bisa. Aku hanya berharap doaku terkabul.

Terima kasih suamiku, kau telah setia menemaniku di saat aku suka dan duka bahkan saat aku terpuruk dan putus asa akan hidupku. Kau telah memberiku semangat bangkit kembali untuk meniti hidup bersamamu. Allah Maha Segalanya. Kami dipersatukan di saat yang indah.

Oleh : Didie DiaAsa

Minggu, 06 Mei 2012

Semakin...

Di usia pernikahan kami yang sudah tujuh bulan, alhamdulillah kami masih baik-baik saja, bahkan bertambah baik dibandingkan waktu kami masih pacaran. Dia semakin memahami aku. Mengerti aku. Dan tahu apa yang aku mau. Terima kasih atas segalanya Ya Rabb. Kau mengirimkan pangeran untukku. Dia bagiku benar-benar pangeran yang tanpa aku sadari yang dulu aku idam-idamkan. 

Kadang sesekali dia memberiku kejutan yang membuatku senang. Dan itu yang membuatku semakin sayang dan selalu ingin bersamanya selamanya. Memang dia bukan tipe-tipe cowok yang romantis. Bahkan waktu masih masa-masa pacaran mungkin dia bukan termasuk tipe-tipe pria idaman bagi wanita-wanita jaman sekarang yang sukanya diperhatikan dan dimanja. Dia jauh dari itu. Tapi aku menyukai dengan apa adanya dia. Yang namanya kencan di malam minggu aja nggak pernah. Kami hanya banyak menghabiskan 2 tahun masa pacaran hanya lewat telepon aja. Kadang aku merasa benci dengan keadaan itu. Tapi aku hanya berharap sesuatu yang indah akan menggantikan itu semua. Itu terbukti kami menikah November 2011 kemarin. Penantian panjangku dan rasa rinduku yang selalu menghujam jantungku akhirnya tergantikan. Gimana tidak sekarang aku tinggal bersamanya jadi setiap hari ketemu.

Mungkin akhir-akhir ini bisa dibilang aku sangat manja sekali ma dia. Tapi dia tak sedikitpun mengeluh dengan tingkahku yang kadang keterlaluan. Dia menuruti semua yang aku minta. Semoga perhatianmu dan sayangmu padaku tak akan pernah luntur sampai akhir hayat. Amin.


Semakin Kau Memberiku perhatian
Semakin Kau Memahamiku
Semakin Kau Menyayangiku
Semakin Kau Mengerti aku
Semakin Ku Mencintaimu

--I Love You Full Forever--



Jumat, 04 Mei 2012

Hitam Putih

Hitam dan putih,manis dan pahit, bening dan keruh, adalah sebuah konsep dari secangkir kopi yang diimplementasikan ke dalam kehidupan manusia di mana ke dua warna hitam dan putih tersebut mengalami pemaknaan yang luas. yang telah diasosiasikan dalam penggolongan manusia dan tindakannya. Juga bisa diasosiasikan dengan surga dan neraka, kebaikan dan kejahatan, Juga bisa diartikan sebagai bentuk kesucian dan kekotoran, atau Selamat dan tidak selamat. 

Hitam putih adalah bagian dari dualitas. Dan disitulah kita sebagai manusia yang dilengkapi akal dan pikiran serta cipta, rasa dan karsa yang menjadi satu kesatuan di dalam setiap panca indra manusia akan menangkap sinyal-sinyal yang datang yang di mana nantinya manusianya sendiri yang akan menentukanya. dan sebagaimana halnya rasa yang terdapat dalam segelas kopi disitu terdapat rasa pahit dan juga manis seperti halnya kehidupan ini yang tak lepas dari yang namanya pahitnya kehidupan tetapi dibalik itupun ada manisnya kehidupan, dan bagaimanakah kita harus menyikapi hidup ini dari yang pahit agar menjadi manis? dan jawaban itu pun mungkin juga terdapat dalam segelas kopi yang disitu terdapat air bening dan keruh yang dimana kalau pada manusia antara kejernihan hati dan kotoran hati, seperti halnya air pada segelas kopi, jika lau kopi dalam gelas telah mengendap maka yang muncul adalah yang bening dan disitulah nikmatnya meminum kopi dan begitu juga pada manusia, manusia akan memperoleh suatu kenikmatan hidup jika manusia tersebut mau membersihkan kotoran yang ada pada dirinya (mensucikan diri ) sehingga memperoleh yang namanya kejernihan / kebeningan hati yang akan mengantarkan pada nikmatnya keseimbangan di dalam hidup.


Oleh : Bakoel Kopi

Rabu, 02 Mei 2012

Jalan-Jalan Melulu

Minggu ini aku dan suamiku sering banget jalan-jalan. Entah itu ada urusan ataupun hanya sekedar jalan-jalan. Meskipun hanya jalan-jalan tapi seneng banget soalnya bisa melihat dunia luar. Selama ini aku hanya berkutat di rumah saja. Kerja juga di rumah. Dibilang bosen juga bosen, dibilang nggak bosen juga nggak. Kan kerjanya bareng suami. Dulu juga hidupku sering aku habiskan di rumah saja. Anak rumahan gitu. Makanya aku sulit mendapatkan seorang kekasih. Ups kok malah curhat. Tapi sekarang ku tak kesepian lagi. Mungkin bukan rumah sendiri kali ya. Tapi aku berusaha untuk betah di Surabaya. Sekarang kan aku sudah resmi menjadi warga Surabaya.

Mengenai jalan-jalan dari hari Senin, aku dan suamiku jalan-jalan sampai ke Gembong. Jika dihitung dari rumahku heheh bukan ding rumah suamiku maksudku, ya terhitung jaraknya jauh. Tapi emang ada keperluan sih. Dari rumah udah niat mau beli kursi buat warnet di rumah. Pilih kursinya yang kuat soalnya udah dua kali dipatahin ma pelanggan di sini..orangnya sama pula. Jadi terpilihlah kursi bulat berbahan besi dan ada bantalannya jadi nyaman duduknya. Sudah muter-muter ke Gembong. Eh malah dapetnya di Rungkut juga. Capek deh. Untung juga sih emang bener-bener sambil jalan-jalan. Hehe. Tapi yang tak mengasyikan dari aku setiap aku jalan-jalan hal yang aku benci adalah aku tak tahan dengan panasnya sinar matahari. Efeknya selalu membuatku pusing tujuh keliling. Untung aja nggak keliling lapangan tambah capek entar. Dan itu bisa sembuh jika aku langsung tidur. Bilang aja emang hobi tidur pake sinar matahari sebagai alasan lagi. Hahay..

Hari Selasa, jalan-jalan cuma dekat rumah saja, yaitu ke kekelurahan lalu ke kecamatan. Yups aku ke touring ke tempat itu soalnya ada keperluan yang sangat penting, yang menyangkut hidup dan matiku. (Lebay) Bagaimana tidak aku hidup selamanya di Rungkut masak nggak punya KTP kan bukan warga negara Indonesia kalo gitu. Entar kalo terjadi apa-apa kan bisa memperkenalkan diri lewat KTP. Sekali narsis tetap saja narsis. Mengenai mati...Ah nggak tahu kan aku belum mengalami. Lagian masih belum cukup bekal untuk menghadap Sang Pencipta. Banyak dosa ya Allah. Ampuni hambaMu. 

Obat sudah habis, waktunya beli. Ya hari Rabu ini aku jadwalnya ke Dayang Sumbi. Itu loh kebun toga yang terkenal. Kebunnya ada di daerah Sambilawang, Mojokerto. Tapi aku bukan ke Mojokerto meskipun asalku dari Mojokerto, aku konsultasi ke Kantor Pusatnya di Perum Deltasari, Sidoarjo. Ya sebentar saja aku ke sana. Ingin mampir ke sana-kemari cuacanya lagi panas-panasnya. Entar kambuh lagi. Cuma mampir ke tukang pangkas rambut, soalnya suamiku rambutnya harus dirapiin lagi. Mampir juga ke orang jualan kopi bubuk soalnya di warung kopinya habis. Dari situ langsung pulang. Cuacanya panas banget bikin aku tuing-tuing. Suamiku langsung tepar. Tidur sampe menjelang ashar. Aku sendiri nggak tidur soalnya ada pelanggan yang harus aku layanin. Sampai aku lupa kalo belum sholat. Habis sholat aku langsung tidur soalnya syndrom panasku kumat lagi. Kepala tuing-tuing ditambah lagi ngantuk tapi gk ditidurin tambah pusing sing sing. 

Besok kemana lagi ya? Oya besok jalan-jalan ke pasar untuk belanja soalnya ibuk mertua besok lusa mau pulang ke Jombang. Biasanya belanja buat oleh-oleh selain itu juga belanja buat masak sehari-hari. JJP (Jalan-jalan pagi) bersama mertua lewat perumahan mewah-mewah jadi keingat rumah impianku. Hehe Ngimpi kali ya. Tapi kan aku nggak tahu apa yang terjadi besok. Mungkin saja aku mempunyai rumah seperti itu. Aseg.

Perjalananku cukup berhenti di sini. Pengen pulang juga nggak bisa soalnya harus tunggu rumah. Nasib-nasib tapi asyik. Ok guys bersambung ke kisah berikutnya ya.