Ketika aku membaca ceritanya Surat Kecil Untuk Tuhan, aku terkenang masa silam yang sempat membuatku down tak semangat untuk hidup lagi. Dalam segala aktivitasku waktu kuliah aku jalani dengan terbayang-bayang apa yang terjadi padaku. Ada ketakutan yang mendalam dalam hatiku yang membuatku sering menangis saat kumulai sendiri di kamar kosan. Aku takut bukan karena sakit yang aku derita, tapi yang aku takutkan lama-lama orang sekitarku akan tahu penyakitku, terutama kekhawatiran orang tuaku jika mengetahui hal ini.
****
Bagaimana tidak waktu SMA orang tuaku berhasil kubuat khawatir 100% dengan pernyataan bahwa ada benjolan di badanku yang rentan. Menurut survey jika menderita penyakit itu kecil kemungkinan untuk sembuh. Semakin khawatir orang tuaku karena saudara dari bapak juga pernah menderita seperti aku. Dan beliau saat ini telah tiada.
Setelah mendengar hal itu dari mulutku, aku langsung dibawa ke rumah sakit oleh orang tuaku untuk dilakukan operasi. Aku pun dioperasi dengan sukses. Saat itu juga aku langsung pulang. Selang beberapa bulan sakit itu muncul lagi. Aku sebenarnya takut banget untuk mengatakannya pada orang tuaku, tapi kalau nggak aku katakan, aku semakin dimarahi karena aku menyembunyikannya dan tentunya membahayakanku entar. Untuk itu aku beranikan diri untuk mengatakannya pada orang tuaku.
Setelah mendengar hal itu dari mulutku, aku langsung dibawa ke rumah sakit oleh orang tuaku untuk dilakukan operasi. Aku pun dioperasi dengan sukses. Saat itu juga aku langsung pulang. Selang beberapa bulan sakit itu muncul lagi. Aku sebenarnya takut banget untuk mengatakannya pada orang tuaku, tapi kalau nggak aku katakan, aku semakin dimarahi karena aku menyembunyikannya dan tentunya membahayakanku entar. Untuk itu aku beranikan diri untuk mengatakannya pada orang tuaku.
Kali ini aku dibawa ke dokter lagi bukan untuk operasi melainkan untuk memastikan apakah sakitku kali ini memang kambuh atau apa. Dan ternyata kata dokter itu sakitku itu masih jinak tapi kalau dibiarkan takutnya akan menjadi ganas. Alhasil dengan berbagai cara aku tempuh. Aku tak mau lagi dioperasi. Aku dan orang tuaku mulai mencari informasi mengenai pengobatan alternatif. Mulai dari bentuk jamu racikan, pijat, sampai daun-daunan. Tapi semua itu hanya mengurangi rasa sakit saja. Hingga suatu saat sakit itu menyerangku yang berhasil membuatku meneteskan air mata karena aku tak kuasa menahan rasa itu. Aku kuatkan untuk browsing di internet mengenai obat alternatif untuk penyakitku itu, aku temukan tumbuhan Keladi Tikus. Nama itu baru aku dengar. Aku pun tanya pada masku (pacarku) tentang tumbuhan itu apakah dia tahu.
Aku memintanya untuk mencari tumbuhan itu. Mungkin saat itu dia bingung apa yang aku maksud. Memang sebelumnya dia tak pernah aku kasih tahu mengenai sakitku ini. Dia bertanya kepadaku untuk apa tanaman itu. Aku bingung untuk menjelaskan kepadanya. Sebenarnya aku tak ingin dia ikut khawatir tentang keadaanku. Dia terus memaksaku sehingga dadaku sesak menahan semuanya. Aku akhirnya menceritakan semuanya sambil berlinang air mata. Aku tak sanggup lagi menceritakan itu semua kepadanya. Dia sepertinya ikut sedih dan merasakan apa yang aku rasakan. Dia menyesali karena aku tak pernah menceritakan ini padanya. Tanpa aku ketahui dia menulis puisi untukku. Berikut puisinya
Aku ada untukmu ....
Jangan pernah ada pedih yang kau simpanJangan kau terus terpuruk dalam kegelapan
Hidup ini hanya sementara
Dan jangan pernah kau ikat dalam samsara
Akankah kau terbang sendiri dengan sayapmu
Menahan beratnya beban di pundakmu
Akankah kau menahan semua pilu yang menghambat langkahmu
Menuju sebuah mimpi yang telah kau rajut semasa kecilmu
Percayakan pada semua orang yang menyayangimu
Percayakan hatimu pada diriku
Karena hatiku kan selalu ada untukmu
Menopangmu semampuku
Di sini kita berbagi
Mencari sebuah jalan lain dari kehampaan ini
Aku akan terbang bersamamu
Agar ku bisa menahan peluh di hatimu
Ingatlah hari esok masih panjang
Yakinlah Tuhan pastikan menunjukkan jalan
Bersama kita lalui
Bersama kita lewati
Puisi ini kupersembahkan buat Adinda Tersayang (Didie)
Pertama kali aku membacanya, aku terharu. Begitu pedulinya dia padaku. Dia tak meninggalkanku dengan keadaanku yang demikian. Aku semakin salut sama dia. Apakah ini yang disebut setia. Aku tak pernah terpikir untuk mencari yang lain lagi, karena dia cukup bagiku.
Dia dengan berbagai kemampuannya, mencari informasi mengenai tanaman itu. Akhirnya dia menemukan di sebuah toko penjual obat tapi dalam bentuk kapsul. Setiap dia menjengukku di kosan, dia selalu membawa obat itu. Dan dia minta aku bilang jika obatnya habis. Karena jarak kami jauh saat itu Surabaya - Malang jadi sekali bawa, 2 botol dan 1 botol isi 50 kapsul. Hampir setahun aku minum itu, tapi sama saja hanya mengurangi rasa sakit saja, tak bisa menyembuhkan. Aku mulai browsing lagi pengobatan alternatif. Kutemukan Dayang Sumbi yang memproduksi jamu dari toga. Aku minta masku untuk mengantarku ke sana. Aku pun melakukan terapi dengan jamu dari sana. Hampir 1 tahun lebih dan itu sudah 4 kali cek lab. Terakhir cek lab, dinyatakan membaik, meskipun benjolannya masih ada. Dan kalau punya anak akan hilang sendiri.
***
Aku dan masku (sekarang suamiku) optimis akan sembuh total. Dengan doa dan usaha semua akan bisa. Aku hanya berharap doaku terkabul.
Terima kasih suamiku, kau telah setia menemaniku di saat aku suka dan duka bahkan saat aku terpuruk dan putus asa akan hidupku. Kau telah memberiku semangat bangkit kembali untuk meniti hidup bersamamu. Allah Maha Segalanya. Kami dipersatukan di saat yang indah.
Oleh : Didie DiaAsa
Oleh : Didie DiaAsa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar