Jumat, 01 Juni 2012

Bahasa Iklan

Iklan berarti mempromosikan barang atau jasa. Tapi apakah semua iklan bersifat komersil, tentu saja tidak  ada iklan layanan masyarakat yang bertujuan untuk mengajak masyarakat. 
Bahasa iklan bersifat persuasif, artinya mempengaruhi seseorang, berupa menggugah emosi pembaca atau pendengar agar sasaran iklan melakukan sesuatu atau bertindak sesuai dengan apa yang dikatakan dalam iklan tersebut. Oleh karena itu, dalam bahasa iklan, kata-kata yang digunakan berupa rayuan, anjuran atau ajakan yang dapat menimbulkan rasa penasaran.


***
Tapi bukan itu masalahnya. Pada awal Juni ini, aku berhasil mengecewakan diriku sendiri gara-gara iklan. Iklan X dan Y mengatakan ada promo dalam bentuk barang yang sama, dan tentu saja harganya murah. Pas aku juga membutuhkan barang tersebut. Aku pun ngotot minta diantar suamiku sekarang itu juga. Tapi suami masih sibuk dengan pelanggannya, jadi sebel deh. Aku berusaha mendatangi promo itu sedini mungkin eh seawal mungkin. Hemm ternyata iklan itu sungguh berhasil membuat konsumen terpengaruh untuk membeli produk itu. Setiba aku di supermarket itu, barang yang dipromosikan sudah habis terjual. Amazing. Malu dong udah masuk ke dalam dan membawa anting belanja, nggak beli apa-apa akhirnya aku terpaksa membeli sesuatu yang sebenarnya bukan tujuan utama aku. Aku harus merayu suamiku lagi untuk mengantarku ke supermarket yang lain. Ya tentunya tidak dengan susah payah. Aku dan suami langsung meluncur ke supermarket selanjutnya.
Di supermarket itu ditawarkan harga yang lebih murah pula. Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung masuk supermarket tersebut. Aku langsung mencari barang yang aku incer. Eh ternyata iklan yang tidak mencantumkan syarat apa-apa. Waktu aku datangi ternyata ada persyaratan yang sengaja ukuran hurufnya diperkecil. Sebel nggak sih. Lagi-lagi aku membeli barang yang di luar rencana. Malu dong udah terlanjur masuk eh nggak beli apa-apa. Apa kata dunia.

***
Iklan seh boleh aja asalkan benar kenyataannya. Apa mungkin itu trik dari iklan itu agar konsumen datang dulu ke supermarket tersebut. Kan nggak mungkin kalau udah masuk nggak beli apa-apa. Jadi meskipun konsumen tidak membeli barang yang diiklankan setidaknya pihak pengiklan masih untung soalnya konsumen masih membeli produk yang lain.
Kalau begini caranya iklan mempengaruhi yang tidak baik. Hanya mengambil keuntungan pribadi tanpa memperhitungkan konsumen. Apakah ini bisa dianggap sah dalam dunia ekonomi? Entahlah. Yang aku tahu iklan itu tidak sesuai dengan kenyataan.

Kepada Konsumen yang lain,
Waspadalah terhadap iklan yang tidak jelas dan mengiming-imingi keuntungan konsumen, padahal sebenarnya itu semata-mata hanya untuk keuntungan pribadi saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar