Kamis, 13 Desember 2012

Merefresh Kemampuan




Tiba-tiba diminta adek untuk membuatkan puisi bertemakan "Narkoba". Ya meskipun aku tidak begitu mahir, akan kuusahakan merangkaikan kata-kata yang aku bisa. Pikir dipikir..akhirnya kuhasilkan sebuah puisi yang mengandung harapan ada tempat di hati para juri lomba itu. Berikut hasilnya

Bara Penderitaan

Kakiku menapak, di atas kerikil-kerikil yang membara
Di hadapku, dalam pandangku…
Baranya membawaku dalam gelisah  
Semakin kupijak, semakin mendidihkan darahku

sisi lain satu persatu melepas nyawa
merangkak menuju Dia Sang Pemberi hidup

sedangkan lainnya tergeletak…
dalam ruang sepetak

Aku, berada dalam kegelapan
yang membungkam kedua mata hatiku
Aku melihat, tapi aku buta
tak tahu mana yang ada
Dan mana yang tiada

Tapi, dapat kurasakan dan kudengar
Teriakan, rintihan yang tak beraturan
Semakin keras semakin memekik
Penderitaan mencekik

Rentetan pertanyaan mengelayutiku
bahkan mencekikku
memintaku merasakan kenikmatan penderitaan itu

Siapa tak berhati?
menusukkan derita dalam sekejap kenikmatan
Siapa tak berhati?
berbuat tanpa akal dan nurani
menyiksa, menerkam, membunuh!
Tua, muda bahkan anak-anak
mereka tak memandang!!!

Cucuran air mata tak mampu memadamkan bara
Dari mereka yang ditinggalkan
Dari mereka yang terabaikan
Mereka tak henti berkata
Mengapa kau salah mengambil arah?
hingga pergi terkubur dengan penderitaan

Kuharap ada kritik dan saran untuk puisi ini. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar