Tiba-tiba diminta adek untuk membuatkan puisi bertemakan "Narkoba". Ya meskipun aku tidak begitu mahir, akan kuusahakan merangkaikan kata-kata yang aku bisa. Pikir dipikir..akhirnya kuhasilkan sebuah puisi yang mengandung harapan ada tempat di hati para juri lomba itu. Berikut hasilnya
Bara
Penderitaan
Kakiku menapak,
di atas kerikil-kerikil yang membara
Di hadapku, dalam pandangku…
Baranya membawaku dalam gelisah
Di hadapku, dalam pandangku…
Baranya membawaku dalam gelisah
sisi lain satu persatu melepas nyawa
merangkak menuju Dia Sang Pemberi hidup
sedangkan lainnya tergeletak…
dalam ruang
sepetak
Aku, berada dalam kegelapan
yang membungkam kedua mata hatiku
Aku melihat,
tapi aku buta
tak tahu mana yang ada
tak tahu mana yang ada
Dan mana yang
tiada
Tapi, dapat
kurasakan dan kudengar
Teriakan,
rintihan yang tak beraturan
Semakin keras
semakin memekik
Penderitaan mencekik
Rentetan
pertanyaan mengelayutiku
bahkan mencekikku
memintaku merasakan kenikmatan penderitaan itu
bahkan mencekikku
memintaku merasakan kenikmatan penderitaan itu
Siapa tak berhati?
menusukkan derita dalam sekejap kenikmatan
Siapa tak berhati?
berbuat tanpa akal dan nurani
menyiksa, menerkam, membunuh!
Tua, muda bahkan anak-anak
mereka tak memandang!!!
menusukkan derita dalam sekejap kenikmatan
Siapa tak berhati?
berbuat tanpa akal dan nurani
menyiksa, menerkam, membunuh!
Tua, muda bahkan anak-anak
mereka tak memandang!!!
Cucuran air mata tak mampu memadamkan bara
Dari mereka yang ditinggalkan
Dari mereka yang terabaikan
Mereka tak henti berkata
Mengapa kau salah mengambil arah?
hingga pergi terkubur dengan penderitaan
Kuharap ada kritik dan saran untuk puisi ini. Terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar