Setelah hampir seminggu, aku berada di rumah tercintaku di Kembangringgit. Rasanya lega banget berada di rumah lebih lama dari biasanya. I always miss my sweet home. Ya selain refreshing di desa, aku juga ada keperluan. Bulek punya hajat sunatan. Jadi sebelumnya aku udah di sana. Padahal aku di sana nggak ngapa-ngapain. Hehe. Kalau dibilang cuma alasan aja sih emang benar. Sementara aku di rumah, suamiku harus meluncur ke Jombang. Di sana dia mengurus adeknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ibu Mertua juga ada di sana. Dan Alhamdulillah adek udah sembuh meskipun belum sembuh total. Aku nggak ikut ke Jombang soalnya suamiku harus kembali ke Surabaya lagi.
Setelah adek dibolehkan pulang dari Rumah sakit, suamiku langsung ke Surabaya. Cuma 1 hari di Surabaya, dia perjalanan lagi ke Kembangringgit untuk menjemputku sekaligus laden (membantu) di hajatannya Bulek. Pagi tadi kembali harus pulang ke Surabaya, soalnya katanya janjian sama orang. Eh orangnya nggak datang-datang.
Sebenarnya bukan itu inti ceritanya, itu hanya perjalanan menuju inti cerita alias pembuka saja. Inti ceritanya terjadi saat aku tiba di Surabaya. Sungguh tak kusangka rumahku memang tak berpenghuni. Terbukti dengan keadaan rumahku saat itu. Baru aku buka pintu, barang2 berserakan di mana-mana. Semakin ke dalam semakin suram kumelihat keadaan rumahku. TV yang tadinya berada di atas berpindah tempat di ruang tengah dan tak tertata. Toples-toples berkeliaran menutupi jalan ke dalam. Kamar-kamar seperti kapal pecah. Sprei semburat seperti dimainin oleh anak2 yang berloncat-loncat di atas kasur. Di lantainya bergerumbul pakaian-pakaian kotor. Kipas angin yang menempel di dinding kamarku berpindah tempat di kamarnya ibuk. Kipas angin di kamarnya ibuk ada di atas meja. Alat pancing berada di atas meja.
Oh my God. Ditinggal beberapa hari saja udah kayak gini. Pengen jerit rasanya. Perasaan saat aku tinggal pulang, kondisi rumah dalam keadaan rapi dan bersih. Mungkin kalau karena debu saja lumrah. Tapi kalau benda-benda dalam rumah berpindah tempat perlu dipertanyakan lebih jauh lagi. Apakah ini perbuatan manusia atau hewan. Kalau hewan nggak mungkin, soalnya di rumah hewannya nggak ada singa atau harimau, hanya ada tikus dan sebangsanya. Nggak mungkin kan tikus bisa memindahkan benda-benda berat seperti TV, kipas angin dsb. Apakah ini ulah raja Tikus yang ingin menguasai rumah ini selagi aku tak ada. Menyalahkan tikus kayaknya harus dipikir ulang lagi. Kira-kira siapa ya? Apakah penunggu rumah ini? Apakah mungkin aku bisa bertahan dengan keadaan seperti ini. Tak ada satu pun yang mendukungku untuk menciptakan rumah bersih dan rapi. Padahal dengan rumah bersih dan rapi, orang yang tinggal akan merasa nyaman. Semuanya amburadul. Kalau begini caranya, mungkin jika aku nanti hamil, aku mending ngungsi di desa aja. Mungkin mereka yang di sana bisa mendukung niatku.
Tapi entahlah, di sini adalah tempat tinggalku selamanya bersama suamiku. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa nyaman tinggal di sini. Dan pertanyaan itu ke mana harus aku sampaikan? Sungguh hidup yang amburadul membuatku tak nyaman.
Oleh : Didie DiaAsa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar