Hidup adalah proses. Dalam proses itulah diri kita digembleng dengan berbagai ujian baik berupa masalah/kenikmatan. Hingga pada hasil akhirnya diharapkan kita dapat menemukan diri kita yang sejati atau biasa disebut jati diri. Persoalan jati diri bukan hanya sekedar sikap atau sifat. Tapi lebih jauh dari hal itu, berhubungan dengan Maha Pencipta. Bagaimana proses manusia dalam menuju tujuan utama hidup yaitu kepada Tuhan.
Acapkali dalam menemukan jati diri dihubungkan dengan proses pendewasaan seseorang. Memang semua itu terkait dalam hal pembawaan diri kita dalam menyikapi hidup. Seseorang dikatakan dewasa bukan dilihat dari umur seseorang tapi sikap seseorang dalam menghadapi segala hal yang ada dalam hidupnya. Sikap bukan berarti tingkah laku saja, tapi cakupannya lebih luas yang meliputi penataan hati, pola pikir, tapi tetap harus semua dihubungkan dengan tujuan utama hidup.
***
Hahay..tapi tak sedalam itu hidupku. Hehe. Intermezo doang. Sebenarnya aku bisa dibilang sudah berumur yaitu umurku sekarang 24 tahun. Kalau dilihat umur sih termasuk udah dewasa bukan remaja lagi. Ditambah lagi statusku yang sudah berumah tangga, wah tambah dewasa itu alias ibuk-ibuk. Hezzz enak aja masih imut kali. tetepnarsis.com Orang yang berani memutuskan untuk mulai berumah tangga adalah orang yang telah mampu menjadikan dirinya "dewasa". Dalam rumah tangga, orang tidak hanya mengurus dirinya sendiri, dia sudah harus mengurus suami/istri dan anaknya. Otomatis masalah juga akan bertambah. Pikiran juga sudah tak sesederhana waktu masih lajang.
Untung aku mempunyai suami yang sudah "dewasa" meskipun umurnya hanya satu tahun di atasku. Secara, dia telah menjadi tulang punggung keluarga sejak lulus SMA. Dia mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarganya. Salut wes pokoke. Bangga deh punya suami kayak dia. Dia juga mampu menyeimbangiku dalam segala hal. Dia banyak memberikan masukan dalam hidupku. Dia mampu mengatasi diriku yang emosinya suka meledak-ledak. Untung bukan BOM. Dia aku nilai kriteria pria yang bukan hanya penyabar tapi sangat amat sabar sekali. Lebay deh. Dia banyak mengalah, soalnya dia tahu sifatku. Egois ya aku. Kasihan suamiku.
Bisa dibilang aku masih seperti anak kecil suka bersikap manja. Dan kalau tidak dituruti suka ngambek nggak jelas gitu. Terkadang aku bersikap layaknya masih lajang dulu. Lupa kali kalau sudah punya suami. Waduh ni belum punya anak. Banyak hal yang seharusnya dilakukan orang yang berumah tangga. Aku terkadang berat untuk melakukannya. Bisa dibilang aku menganggap suamiku bukan sebagai suami, tapi layaknya sahabat, kawan, saudara. Seperti bukan orang berumah tangga. Ingin tertawa saat membayangkannya. Aku merasakan hal itu dalam pernikahan kami. Mungkin semua butuh proses. Tapi kadang aku juga bisa bersikap dewasa. Suamiku juga gitu kadang bertingkah lucu kayak anak kecil. Jadi bikin gemes. Aneh sih.
Jadi intinya, pendewasaan tidak bisa diukur oleh apapun. Kadang seseorang bisa bersikap dewasa pada saat yang dibutuhkan. Kadang juga seseorang bersikap seperti anak kecil pada saat yang dibutuhkan pula. Hidup harus penuh warna biar tidak mengidap penyakit yang sangat mengerikan yaitu BOSAN.
Tapi tetap hati dan pikiran fokus pada jati diri.
***
Oleh : Didie DiaAsa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar